19 Sep 2012

Impian Yang Menjadi Mimpi

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 19 Sep 2012 | 06.48



Sore itu di sebuah pantai pinggiran kota Bima....

Seorang anak kecil yang lucu terlihat berlarian di pinggir pantai, dia terlihat riang sekali. Anak kecil yang lucu dan usianya tidak lebih dari 5 tahun. Kakinya menyentuh batas antara pasir dan air laut yang terlihat tenang membelai pasir-pasir di ujung pantai. Sesekali di tertawa lepas dan berloncatan....

"Fasta....", terdengar panggilan dari seorang perempuan yang usianya belum genap 30, seorang perempuan yang nampak manis, dengan mata yang sangat indah.

"Iya Bunda", Fasta menjawab panggilan dari perempuan tersebut. Ternyata perempuan tersebut adalah ibu dari anak kecil yang tadi dipanggil dengan nama Fasta.

"Maem dulu sayang" sahut perempuan tersebut.

Fasta berlarian kearah perempuan tersebut, dengan berlarian kecil, lalu ia mengambil tempat di sebelah seorang pria yang sedang duduk di sebuah tikar yang dihadapannya terlihat makanan rantangan yang dipersiapkan oleh sang bunda.

"Ayah, nanti kita mandi yah", Fasta melontarkan pertanyaan tersebut dengan nada yang sedikit memohon dan sedikit cemas, khawatir sang ayah tidak memperbolehkan ajakannya.

Pria tersebut tersenyum lalu menarik sang anak ke dalam pelukannya dan berkata, "Iya sayang, nanti kita mandi," kemudian melanjutkan pertanyaan kepada sang isteri, "Bunda nggak ikut mandi?". 
Perempuan tersebut menjawab, "Ayah sama Fasta aja yah, bunda enggak bawa salinan".

Mereka lalu menyantap makanan yang sudah dihidangkan tersebut. Sebuah keluarga kecil yang bahagia nampaknya. Terlihat sesekali sang bunda membersihkan makanan yang blepotan di sekitar mulut Fasta, dan sang ayah terlihat memandang isterinya dengan sorot mata yang lembut dan penuh kasih sayang.

Sampai saat hari terlihat semakin sore, keluarga kecil tersebut terlihat bahagia dan nampak menikmati acara liburan penuh kesederhanaan mereka. Sang ayah menemani Fasta yang nampak senang karena akhirnya bisa mandi di laut dengan sang ayah, sementara dari pinggir pantai sang bunda mengawasi suami dan anaknya dengan cemas, karena sesekali sang ayah menggoda Fasta dengan melepaskan pelukannya sehingga Fasta dan sang bunda teriak-teriak ketakutan.

Tiba-tiba......

Datanglah segerombolan preman yang terkenal bengis di kota tersebut dalam keadaan mabuk. Mereka tanpa berkata apa-apa lalu menarik sang bunda dengan sangat kasar dan memaksa masuk ke dalam sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari lokasi tersebut, sang bunda berteriak dan meronta minta dilepaskan.

Sang ayah yang masih di dalam air menyaksikan kejadian tersebut tersontak, kemudian sambil menggendong Fasta dia berlari menuju tempat dimana isterinya berada. sementara Fasta menangis menyaksikan sang bunda diperlakukan dengan kasar oleh segerombolan preman tersebut, dan sesekali berteriak memanggil bundanya.
Beberapa saat setelah tiba di pinggir pantai, beberapa orang preman menghadang sang ayah lalu melepaskan beberapa pukulan yang membuat sang ayah melepaskan pelukannya terhadap sang anak. Fasta terjatuh di pasir lalu bangun dan mengejar ke arah sang bunda yang sudah tak berdaya di dalam mobil karena disekap oleh beberapa preman lainnya.

Sementara sang ayah dengan tubuh yang berperawakan kurus mencoba melawan beberapa orang preman yang menghadangnnya tadi, namun kalah jumlah akhirnya sang ayah terkapar setelah menerima beberapa pukulan dan tendangan dari beberapa preman yang menghadang tersebut.

Kemudian dengan mata nanar, pandangan yang semakin kabur dan gelap, ia menyaksikan sang isteri dan anaknya dibawa kabur oleh segerombolan preman tadi, dia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali setelah menerima beberapa hantaman di ulu hatinya tadi. Air mata nampak keluar dari matanya yang semakin lama semakin sayu, ia hanya bisa mengerang. 
Beberapa saat kemudian tiba-tiba sang ayah terkapar lemas di ujung pantai, tidak ada yang tahu ia pingsan, koma atau bahkan sudah meninggal.

Dan..........

Jam weker berbunyi dengan keras di subuh yang masih buta, membangunkanku untuk sholat subuh. Aku tertegun, mimpi yang benar-benar sangat terasa seperti sebuah kenyataan, bentuk keluarga kecil yang merupakan "mimpi" yang benar-benar menjadi "impianku" selama ini.

Ya Allah, hanya kepada-MU kami menyerahkan segala urusan hidup kami, semua kami pasrahkan kepada-MU, engkaulah yang maha menhetahui dan mengatur hidup kami.

“Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“ (QS. Al-Hadid :3)

14 Sep 2012

Sudjiwo Tedjo Photoshop CS3 Vector

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 14 Sep 2012 | 19.17

@SudjiwoTedjo Photoshop CS3 Vector
Foto Asli Sudjiwo Tedjo
Sudjiwo Tedjo Photoshop CS3 Vector

Doni Photoshop CS3 Vector

Foto Asli
Doni Setelah edit dengan Adobe Photoshop Vector

13 Sep 2012

Repez Jakmania Photoshop Vector

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 13 Sep 2012 | 14.43

Foto Asli

Hasil Photoshop Vector

12 Sep 2012

Narcho Rasta Adobe Photoshop Vector

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 12 Sep 2012 | 16.53

Foto Asli

Hasil Narcho Rasta Adobe Photoshop Vector

Narcho Rasta Adobe Photoshop Vector

9 Sep 2012

Panglima Besar Jenderal Soedirman (Photoshop CS3 Vector)

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 9 Sep 2012 | 17.11


Panglima Besar Jenderal Soedirman (Photoshop CS3 Vector)

17 Jul 2012

Galonku Galau

Oleh Tafi M. Taufiqurrahman on 17 Jul 2012 | 14.54

Galonku Galau di Kamar Sunyi

5 Jul 2012

Ketika Si Aku Jatuh Cinta

Oleh Kamar Sunyi on 5 Jul 2012 | 20.57

Pernah aku berdiam dalam kata-kata
mencoba bernegosiasi dengan logika
yang tak hentinya memprotes agar aku berhenti mencintaimu
Sebab cinta yang seperti itu taik kucing
tetapi tetap saja aku mencintaimu

30 Jun 2012

Hentikan

Oleh Kamar Sunyi on 30 Jun 2012 | 13.32

Kata yang kau ucap
adalah sebilah pisau yang tertancap
darah mengalir seperti anak sungai
yang tak tahu kemana sang pantai

29 Jun 2012

Puisi Perjalanan

Oleh Kamar Sunyi on 29 Jun 2012 | 20.45

Dalam Pesawat Juanda - Selaparang
Kulihat kelebat bayangmu 
Di antara kotak-kotak kaca jendela
Diiringi irama lirih dari kalbuku

Bayangan itu terlihat
mengikutiku sejak dari kota bunga
Sepertinya dibawanya 
Ke negeri yang kukenali sejak hari Alastu
Lalu kuresapi suara panggilanmu 

Di antara udara yang meleleh
Dan keringat mengucur
Di tengah-tengahnya do’a kecemasan yang mengalun
Tapi segera dipotong badai suara
Hingga aku hanya mengerang

Di kursi lain sepasang remaja
Saling memanjakan kekasih
Sedang aku hanya bertemankan secarik kertas
dan pena yang mulai kehabisan tinta
dan pikiran menerawang wujudmu

Lalu....
Isyarat-isyaratmu melesat ke Bandara akhir... Selaparang

Aku merasa seolah tanganmu memanjang
Mengetuki setiap jendela dan gumpalan awan
Karena ku tak sanggup lagi menatap kegetiranku
Di sela binar riak matamu

Bulan Ramadhan 2004
(11.15 WITENG, Gelisah.. Sinar "Cahyanya" kembali hadir)
Lion Air...Pesawat yang menghantarku ke kampung halaman...
Siang, Panas, Penat serta diantara lirikan mata seorang wanita muda yang tak kupahami maksudnya...dan suara sumbang Pramugari yang genit yang menginformasikan pesawat akan segera mendarat (dgn selamat; harapku)

Secangkir Kopi, Sebatang Rokok dan Pikiran Liar

Secangkir kopi dan sebatang rokok ku lewati hari ini dengan pertanyaan..”adakah cinta untukku untuk esok hari?”.
Sementara asbak rokok sudah mulai penuh dengan belasan batang rokok yang kuhisap semalam, dengan demikian berpuluh puluh lubang bertambah di paru paruku, entahlah bagiku rokok adalah sahabat sejatiku.

Puisi: Selamat Ulang Tahun

Malam terlalu dingin untuk menjelaskan
di matamu, maut tak lebih dari absurd malam
seperti cahaya bulan yg menyusup di sela daun
yang basah oleh hujan tadi sore